Senin, 12 Januari 2015

Tugas Besar Ilmu Sosial Dasar 1


MAKALAH  AGAMA DAN MASYARAKAT
ILMU SOSIAL DASAR 1

NAMA      : IKA PURWANINGTYAS
KELAS     : 1TB01
NPM         : 25314130



KATA PENGANTAR

            Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini tepat waktu. Salawat dan salam kami sampaikan buat Nabi Muhammad Saw sebagai suri tauladan manusia.
             Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas pada mata kuliah pembelajaran ISD (Ilmu SosiaL Dasar), di dalam makalah ini penulis saya akan membahas mengenai “Agama dan Masyarakat”.
              Dalam penyusunan makalah ini saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, untuk itu dalam kesempatan ini penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi terwujudnya kesempurnaan makalah ini .
              Akhir kata kepada Allah penulis mohon ampun, semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan , petunjuk , maupun pedoman bagi pembaca maupun penulis sendiri .

















DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 1
DAFTAR ISI 2
BAB : AGAMA DAN MASYARAKAT 3
A.    FUNGSI AGAMA 4
B.     PELEMBAGAAN AGAMA 5
C.     AGAMA,KONFLIK, DAN MASYARAKAT 6
LAMPIRAN 7
KESIMPULAN 7
PENGALAMAN POSITIF 7



















BAB

AGAMA DAN MASYARAKAT


A.    Fungsi Agama
Dalam hal fungsi, masyarakat dan agama itu berperan dalam mengatasi persoalan-persoalan yang timbul di masyarakat yang tidak dapat   dipecahakan   secara   empiris   karena   adanya   keterbatasan kemampuan dan ketidakpastian. Oleh karena itu, diharapkan agama menjalankan   fungsinya   sehingga   masyarakat   merasa   sejahtera, aman, stabil, dan sebagainya. Agama dalam masyarakat bisa difungsikan sebagai berikut :
a.         Fungsi edukatif
Agama memberikan bimbingan dan pengajaaran dengan perantara petugas-petugasnya (fungsionaris) seperti syaman, dukun, nabi, kiai, pendeta imam, guru agama dan lainnya, baik dalam upacara (perayaan) keagamaan, khotbah, renungan (meditasi) pendalaman rohani, dsb.

b.        Fungsi penyelamatan
Bahwa setiap manusia menginginkan keselamatan baik dalam hidup sekarang ini maupun sesudah mati. Jaminan keselamatan ini hanya bisa mereka temukan dalam agama. Agama membantu manusia untuk mengenal sesuatu “yang sakral” dan “makhluk teringgi” atau Tuhan dan berkomunikasi dengan-Nya. Sehingga dalam yang hubungan ini manusia percaya dapat memperoleh apa yang ia inginkan. Agama sanggup mendamaikan kembali manusia yang salah dengan Tuhan dengan jalan pengampunan dan Penyucian batin.

c.         Fungsi pengawasan sosial (social control)
Fungsi agama sebagai kontrol sosial yaitu :
·           Agama meneguhkan kaidah-kaidah susila dari adat yang dipandang baik bagi kehidupan moral warga masyarakat.
·           Agama mengamankan dan melestarikan kaidah-kaidah moral ( yang dianggap baik )dari serbuan destruktif dari agama baru dan dari system hokum Negara modern.

d.        Fungsi memupuk Persaudaraan
Kesatuan persaudaraan berdasarkan kesatuan sosiologis ialah kesatuan manusia-manusia yang didirikan atas unsur kesamaan.
·           Kesatuan persaudaraan berdasarkan ideologi yang sama, seperti liberalism, komunisme, dan sosialisme.
·           Kesatuan persaudaraan berdasarkan sistem politik yang sama. Bangsa-bangsa bergabung dalam sistem kenegaraan besar, seperti NATO, ASEAN dll.
·           Kesatuan persaudaraan atas dasar se-iman, merupakan kesatuan tertinggi karena dalam persatuan ini manusia bukan hanya melibatkan sebagian dari dirinya saja melainkan seluruh pribadinya dilibatkan dalam satu intimitas yang terdalam dengan sesuatu yang tertinggi yang dipercayai bersama

e.        Fungsi transformatif
Fungsi transformatif disini diartikan dengan mengubah bentuk kehidupan baru atau mengganti nilai-nilai lama dengan menanamkan nilai-nilai baru yang lebih bermanfaat.
Sedangkan  menurut   Thomas   F.  O’Dea  menuliskan   enam  fungsi agama dan masyarakat yaitu:
1.      Sebagai pendukung, pelipur lara, dan perekonsiliasi.
2.      Sarana hubungan  transendental  melalui  pemujaan dan upacara ibadat.
3.      Penguat norma-norma dan nilai-nilai yang sudah ada.
4.      Pengoreksi fungsi yang sudah ada.
5.      Pemberi identitas diri.
6.      Pendewasaan agama.
Sedangkan menurut  Hendropuspito  lebih ringkas  lagi,  akan tetapi   intinya   hampir   sama.   Menurutnya   fungsi   agama   dan masyarakat   itu   adalah   edukatif,   penyelamat,   pengawasan   sosial, memupuk persaudaraan, dan transformatif.

            Agama memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia dan masyarakat, karena agama memberikan sebuah system nilai yang memiliki derivasi pada norma-norma masyarakat untuk memberikan pengabsahan dan pembenaran dalam mengatur pola perilaku manusia, baik di level individu dan masyarakat. Agama menjadi sebuah pedoman hidup singkatnya. Dalam memandang nilai, dapat kita lihat dari dua sudut pandang. Pertama, nilai  agama dilihat dari sudut intelektual yang menjadikan nilai agama sebagai norma  atau prinsip. Kedua, nilai agama dirasakan di sudut pandang emosional yang menyebabkan adanya sebuah dorongan rasa dalam diri yang disebut mistisme.

B.   Pelembagaan Agama
Pelembagaan agama adalah suatu tempat atau lembaga dimana tempat tersebut untuk membimbing manusia yang mempunyai atau menganut suatu agama dan melembagai suatu agama.
Salah satu pelembagaan agama di Indonesia adalah MUI. MUI adalah singkatan dari Majelis Ulama Indonesia, yang berfungsi menghimpun para ulama indonesia untuk menyatukan gerak langkah islam di Indonesia, MUI melembagai atau membimbing suatu agama khususnya agama islam.
Dengan kata lain pelembagaan agama adalah wadah untuk menampung aspirasi-aspirasi di setiap masing-masing agama. ketika ada selisih paham yang tidak sependapat dengan agama yang bersangkutan, maka masalah tersebut di bawa ke pelembagaan agama, untuk di tindak lanjuti.dengan memusyawarahkan masalah tersebut dan di ambil keputusan bersama dan di sepakati bersama pula.

C.  Agama, Konflik, dan Masyarakat
Upacara-upacara yang bernuansa agama suku bukannya semakin berkurang tetapi kelihatannya semakin marak di mana-mana terutama di sejumlah desa-desa. Misalnya saja, demi pariwisata yang mendatangkan banyak uang bagi para pelaku pariwisata, maka upacara-upacara adat yang notabene adalah upacara agama suku mulai dihidupkan di daerah-daerah.
Upacara-upacara agama suku yang selama ini ditekan dan dimarjinalisasikan tumbuh sangat subur. Anehnya sebab bukan hanya orang yang masih tinggal di kampung yang menyambut angin segar itu dengan antusias tetapi ternyata orang yang lama tinggal di kotapun menyambutnya dengan semangat membara. Misalnya pemilihan hari-hari tertentu yang diklaim sebagai hari baik untuk melaksanakan suatu upacara. Hal ini semakin menarik sebab mereka itu pada umumnya merupakan pemeluk yang “ fanatik” dari salah satu agama monoteis bahkan pejabat atau pimpinan agama. Jadi pada jaman sekarang pun masih banyak sekali hal yang menghubungkan agama dengan kepercayaan-kepercayaan seperti itu sehingga bisa menimbulkan konflik bagi masyarakat itu sendiri.























LAMPIRAN


KESIMPULAN
Agama dengan masyarakat memiliki hubungan yang sangat erat, karena agama merupakan pedoman hidup manusia dalam bertingkah laku dan bermasyarakat. Tanpa agama, hidup menjadi tidak teratur dan timbul banyak penyimpangan. Oleh sebab itu, setiap individu harus memimiliki pemahaman yang kuat tentang agamanya agar tidak terjadi konfilk dalam masyarakat.


PENGALAMAN POSITIF:
·           Memahami dasar-dasar agama
·           Terhindar dari pergaulan yang negatif
·           Lebih mendekatkan diri kepada Tuhan
·           Menghormati dan menghargai perbedaan

·           Lebih bersabar dalam menghadapi masalah sebagai cobaan dari Tuhan

Senin, 05 Januari 2015

Cerita Krenyes alias Garing

Sebelumnya gua mau perkenalan dulu biar bisa nyambung sama ceritanya. (Apa hubungannya?) Udah, baca aja. Sekarang gua lagi ngejalanin kuliah di arsitektur gunadarma dan dapet kelas di 1TB01.

Nah, jadi ketika pertemuan pertama setelah UTS di kelas Bahasa Inggris, ada sebuah percakapan antara dosen dengan mahasiswanya (baca: kelas gua).

Dosen                   : “Oke ini kelas ITB01 hasil UTSnya udah keluar.”

Hah I-T-B? Ga salah denger nih gua? Keren, gua dibilang anak ITB meen wkwk :v (nasib cinta bertepuk sebelah otak)

Kelas gua             : “Satu TB 01 Miss.”
Dosen                   : “Oh saya kira ITB. Emang TB itu apa? Teknik Bangunan ya?” (Angka “1” dikira huruf “I”)

Nah, gada yang tau sih kenapa dinamain TB. Tapi temen gua nyeplos aja gini..
Temen gua 1      : “Tukang Bangunan Miss!”
Temen gua 2      : “Kuli Miss!”
Temen gua 3      : “Tukang Batu Miss!”

Didalem hati : (APA?! TUKANG BATU?! Tukang batu yang sering keliling bawa-bawa batu buat ngulek cabe? Hahaha. Tapi iya juga ya, kan arsitek itu kalo diartiin pake bahasa Yunani jadi archi (kepala/tukang) dan techton (batu). WTH jadi selama ini gua diajarin jadi tukang batu :v

Oke, sekian cerita krenyesnya. Bener-bener krenyes yah :v (Masa? BODO) 

Selasa, 09 Desember 2014

Estetika Bentuk

PicsArt_1453503529567[1]
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Pernah denger Estetika Bentuk tidak?
Apabila anda mengambil jurusan arsitektur, anda akan menemui mata kuliah Estetika Bentuk. Tetapi saya tidak yakin apakah semua jurusan arsitektur yang ada di Indonesia terdapat mata kuliah ini. Saya sendiri sedang menjalani kuliah di jurusan Arsitektur Universitas Gunadarma. Saat mengetahui mata kuliah ini saya sangat senang karena mata kuliah ini berhubungan dengan seni.  Tapi, apakah makna dari Estetika Bentuk tersebut? Dan mengapa mahasiswa Arsitektur harus mempelajarinya? Berikut ini adalah penjelasannya :
Secara umum arsitektur sebagai salah satu hasil desain merupakan karya visual/rupa yang diwujudkan melalui proses pemecahan masalah terhadap suatu kondisi tertentu. Wujud akhr dari proses ini adalah bentuk arsitektur. Bentuk jika ditinjau dari sudut pandang estetika merupakan komposisi dari unsur-unsur rupa yang diolah menurut prinsip desain dengan didasari oleh tema tertentu  yang  membatasi komposisi dan ekspresi bentuk tersebut. Untuk itu kepekaan dalam pemilihan unsur rupa dan prinsip desain yang dikomposisi merupakan kemampuan yang patut dimiliki oleh arsitek. Kepekaan ini dapat dicapai melalui pemahaman terhadap pengetahuan dasar Estetika Bentuk yang kemudian diterapkan secara praktis dalam bentuk latihan mengkomposisi. Dengan demikian dapat diuraikan lebih lanjut bahwa tujuan umum mata kuliah Estetika Bentuk adalah :
  • Menguasai pengetahuan dan keterampilan dasar unutk mengubah bentuk, ruang, dan susunan bahan dengan menggunakan kesan kejiwaan dari unsur-unsur rupa berdasarkan prinsip-prinsip estetika
  • Melatih kepekaan mentransformasikan ide, gagasan, dan pikiran ke dalam wujud visual dengan komunikatif
Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu dipelajari materi-matteri berikut ini:
  • Pengertian dasar tentang komposisi, unsur rupa, dan prinsip estetika
  • Metode pengungkapan gagasan secara visual dan grafis
  • Komunikasi bentuk dalam kaitan dengan fungsi dan makna
  • Penerapan unsur dan prinsip desain / estetika sebagai dasar-dasar merancang bangunan
Pada akhirnya dengan melalui pemahaman tersebut diharapkan mahasiswa mampu memiliki pemikiran yang mendasar tentang bentuk sebagai wujud arsitektur sehingga karya yang dihasilkan lebih bersifat konseptual dan terarah.
Jadi, secara singkat Estetika Bentuk ini mengasah kemampuan mahasiswa untuk mengeluarkan bentuk yang dapat menggambarkan efek psikologis.
Berdasarkan yang saya rasakan, Estetika Bentuk ini membuat saya menjadi kreatif dan terkonsep.  Pokoknya saya cinta banget deh sama Esben (Estetika Bentuk). Saking cintanya saya sampe begadang, ga tidur, ga mandi cuma buat ngerjain tugas-tugasnya. Hahaha. (Jangan dicontoh ya). Dan dalam mata kuliah ini, janganlah sekali-kali anda mencotek hasil karya orang lain, belajarlah menjadi kreatif dan berbeda dari yang lain. :D
Dan ini beberapa karya saya....
PicsArt_1453502955616
Sumber:
Diktat Kuliah Estetika Bentuk
Foto pribadi

Minggu, 09 November 2014

Agama dan Masyarakat

I.    Fungsi Agama

Dalam hal fungsi, masyarakat dan agama itu berperan dalam mengatasi persoalan-persoalan yang timbul di masyarakat yang tidak dapat   dipecahakan   secara   empiris   karena   adanya   keterbatasan kemampuan dan ketidakpastian. Oleh karena itu, diharapkan agama menjalankan   fungsinya   sehingga   masyarakat   merasa   sejahtera, aman, stabil, dan sebagainya. Agama dalam masyarakat bisa difungsikan sebagai berikut :
a.         Fungsi edukatif
Agama memberikan bimbingan dan pengajaaran dengan perantara petugas-petugasnya (fungsionaris) seperti syaman, dukun, nabi, kiai, pendeta imam, guru agama dan lainnya, baik dalam upacara (perayaan) keagamaan, khotbah, renungan (meditasi) pendalaman rohani, dsb.

b.        Fungsi penyelamatan
Bahwa setiap manusia menginginkan keselamatan baik dalam hidup sekarang ini maupun sesudah mati. Jaminan keselamatan ini hanya bisa mereka temukan dalam agama. Agama membantu manusia untuk mengenal sesuatu “yang sakral” dan “makhluk teringgi” atau Tuhan dan berkomunikasi dengan-Nya. Sehingga dalam yang hubungan ini manusia percaya dapat memperoleh apa yang ia inginkan. Agama sanggup mendamaikan kembali manusia yang salah dengan Tuhan dengan jalan pengampunan dan Penyucian batin.

c.         Fungsi pengawasan sosial (social control)
Fungsi agama sebagai kontrol sosial yaitu :
·           Agama meneguhkan kaidah-kaidah susila dari adat yang dipandang baik bagi kehidupan moral warga masyarakat.
·           Agama mengamankan dan melestarikan kaidah-kaidah moral ( yang dianggap baik )dari serbuan destruktif dari agama baru dan dari system hokum Negara modern.

d.        Fungsi memupuk Persaudaraan
Kesatuan persaudaraan berdasarkan kesatuan sosiologis ialah kesatuan manusia-manusia yang didirikan atas unsur kesamaan.
·           Kesatuan persaudaraan berdasarkan ideologi yang sama, seperti liberalism, komunisme, dan sosialisme.
·           Kesatuan persaudaraan berdasarkan sistem politik yang sama. Bangsa-bangsa bergabung dalam sistem kenegaraan besar, seperti NATO, ASEAN dll.
·           Kesatuan persaudaraan atas dasar se-iman, merupakan kesatuan tertinggi karena dalam persatuan ini manusia bukan hanya melibatkan sebagian dari dirinya saja melainkan seluruh pribadinya dilibatkan dalam satu intimitas yang terdalam dengan sesuatu yang tertinggi yang dipercayai bersama

e.        Fungsi transformatif
Fungsi transformatif disini diartikan dengan mengubah bentuk kehidupan baru atau mengganti nilai-nilai lama dengan menanamkan nilai-nilai baru yang lebih bermanfaat.
Sedangkan  menurut   Thomas   F.  O’Dea  menuliskan   enam  fungsi agama dan masyarakat yaitu:
1.      Sebagai pendukung, pelipur lara, dan perekonsiliasi.
2.      Sarana hubungan  transendental  melalui  pemujaan dan upacara ibadat.
3.      Penguat norma-norma dan nilai-nilai yang sudah ada.
4.      Pengoreksi fungsi yang sudah ada.
5.      Pemberi identitas diri.
6.      Pendewasaan agama.
Sedangkan menurut  Hendropuspito  lebih ringkas  lagi,  akan tetapi   intinya   hampir   sama.   Menurutnya   fungsi   agama   dan masyarakat   itu   adalah   edukatif,   penyelamat,   pengawasan   sosial, memupuk persaudaraan, dan transformatif.

Agama memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia dan masyarakat, karena agama memberikan sebuah system nilai yang memiliki derivasi pada norma-norma masyarakat untuk memberikan pengabsahan dan pembenaran dalam mengatur pola perilaku manusia, baik di level individu dan masyarakat. Agama menjadi sebuah pedoman hidup singkatnya. Dalam memandang nilai, dapat kita lihat dari dua sudut pandang. Pertama, nilai  agama dilihat dari sudut intelektual yang menjadikan nilai agama sebagai norma  atau prinsip. Kedua, nilai agama dirasakan di sudut pandang emosional yang menyebabkan adanya sebuah dorongan rasa dalam diri yang disebut mistisme.

II.   Pelembagaan Agama

Pelembagaan agama adalah suatu tempat atau lembaga dimana tempat tersebut untuk membimbing manusia yang mempunyai atau menganut suatu agama dan melembagai suatu agama.
Salah satu pelembagaan agama di Indonesia adalah MUI. MUI adalah singkatan dari Majelis Ulama Indonesia, yang berfungsi menghimpun para ulama indonesia untuk menyatukan gerak langkah islam di Indonesia, MUI melembagai atau membimbing suatu agama khususnya agama islam.
Dengan kata lain pelembagaan agama adalah wadah untuk menampung aspirasi-aspirasi di setiap masing-masing agama. ketika ada selisih paham yang tidak sependapat dengan agama yang bersangkutan, maka masalah tersebut di bawa ke pelembagaan agama, untuk di tindak lanjuti.dengan memusyawarahkan masalah tersebut dan di ambil keputusan bersama dan di sepakati bersama pula.

III.  Agama, Konflik, dan Masyarakat

Upacara-upacara yang bernuansa agama suku bukannya semakin berkurang tetapi kelihatannya semakin marak di mana-mana terutama di sejumlah desa-desa. Misalnya saja, demi pariwisata yang mendatangkan banyak uang bagi para pelaku pariwisata, maka upacara-upacara adat yang notabene adalah upacara agama suku mulai dihidupkan di daerah-daerah.
Upacara-upacara agama suku yang selama ini ditekan dan dimarjinalisasikan tumbuh sangat subur. Anehnya sebab bukan hanya orang yang masih tinggal di kampung yang menyambut angin segar itu dengan antusias tetapi ternyata orang yang lama tinggal di kotapun menyambutnya dengan semangat membara. Misalnya pemilihan hari-hari tertentu yang diklaim sebagai hari baik untuk melaksanakan suatu upacara. Hal ini semakin menarik sebab mereka itu pada umumnya merupakan pemeluk yang “ fanatik” dari salah satu agama monoteis bahkan pejabat atau pimpinan agama. Jadi pada jaman sekarang pun masih banyak sekali hal yang menghubungkan agama dengan kepercayaan-kepercayaan seperti itu sehingga bisa menimbulkan konflik bagi masyarakat itu sendiri.

Review:
Agama dengan masyarakat memiliki hubungan yang sangat erat, karena agama merupakan pedoman hidup manusia dalam bertingkah laku dan bermasyarakat. Tanpa agama, hidup menjadi tidak teratur dan timbul banyak penyimpangan. Oleh sebab itu, setiap individu harus memimiliki pemahaman yang kuat tentang agamanya agar tidak terjadi konfilk dalam masyarakat.



Sumber Referensi: